Banyak orang mengenal Pematangsiantar hanya sebagai persinggahan menuju Danau Toba. Namun di balik lalu lintas yang padat dan deretan ruko modern, kota ini menyimpan narasi panjang tentang kekuasaan, perlawanan, dan perjumpaan budaya yang membentuk identitasnya hari ini.
Julukan “Kota Para Ketua” bukan sekadar guyonan khas warung kopi. Sapaan itu kini menjelma simbol keakraban sekaligus egalitarianisme, menandai watak sosial kota yang tumbuh dari sejarah panjang—dari kerajaan lokal, kolonialisme, pendudukan Jepang, hingga Indonesia merdeka.
Di sudut-sudut kota, bangunan kolonial masih berdiri berdampingan dengan kafe kekinian. Seolah dua zaman saling menatap, mengingatkan bahwa Siantar bukan kota yang lahir tiba-tiba, melainkan hasil perjalanan berlapis selama ratusan tahun.
Dari Pulau Holing ke Pusat Kota
Sebelum bernama Pematangsiantar, wilayah ini dikenal sebagai Pulau Holing, kawasan yang kini disebut Kampung Pematang. Dari titik ini, permukiman kecil tumbuh dan menyebar menjadi poros kota.
Tiga wilayah besar menjadi fondasi awal:
-
Siantar Bayu, cikal bakal pusat kota.
-
Suhi Kahean, yang melahirkan kawasan Sipinggol-pinggol, Melayu, Martoba, Sukadame, hingga Bane.
-
Suhi Bah Bosar, yang berkembang menjadi Kampung Kristen, Karo, Tomuan, Pantoan, Toba, dan Marimbang.
Jejak kawasan itu masih hidup hingga kini, menjadi bagian dari denyut sosial Siantar modern.
Kerajaan Siantar dan Jejak Marga Damanik
Wilayah ini dahulu berada di bawah Kerajaan Siantar, salah satu kerajaan kecil di Tanah Simalungun. Para rajanya berasal dari marga Damanik, klan yang hingga kini tetap dihormati.
Nama Tuan Sangnawaluh Damanik tercatat sebagai raja terakhir yang memerintah secara merdeka. Ia dikenang sebagai simbol perlawanan, sebelum kekuasaan lokal akhirnya runtuh akibat ekspansi kolonial pada awal abad ke-20.
Bagi masyarakat Simalungun, nama Damanik bukan sekadar catatan sejarah. Ia adalah pengingat bahwa Siantar pernah berdiri sebagai pusat kekuasaan pribumi, jauh sebelum menjadi kota administratif.
1907: Awal Era Kolonial
Tahun 1907 menjadi titik balik. Belanda mengambil alih, membubarkan kekuasaan kerajaan, dan menjadikan Siantar sebagai pusat administrasi kolonial.
Gelombang pendatang pun datang:
-
Komunitas Tionghoa bermukim di Timbang Galung.
-
Etnis India di Tanah Jawa.
-
Warga Melayu di Kampung Melayu.
Pada 1 Juli 1917, Siantar resmi menjadi Gemeente melalui Stadblad No. 285. Status kota ini diperkuat kembali pada 1939 lewat pembentukan Dewan Kota.
Bangunan art deco di sekitar Jalan Merdeka hingga kini masih berdiri, menjadi saksi kota yang pernah menjadi jantung pemerintahan kolonial di kawasan timur Sumatera.
Pendudukan Jepang: Tiga Tahun yang Membekas
Perang Dunia II mengguncang Siantar. Jepang menggantikan Belanda dan membentuk pemerintahan Siantar State. Masa ini singkat, namun penuh luka.
Kisah kerja paksa, kelaparan, dan kekerasan masih hidup dalam ingatan generasi tua. Sejumlah bangunan bekas markas Jepang masih dapat ditemui—sebagian dialihfungsikan, sebagian lain menua bersama waktu.
Pasca-Kemerdekaan dan Kota yang Terus Tumbuh
Setelah 1945, Siantar berstatus kota otonom. Perubahan besar datang pada 1974, saat ditetapkan sebagai ibu kota Kabupaten Simalungun.
Kini, Pematangsiantar terbagi menjadi delapan kecamatan:
Siantar Marihat, Marimbun, Selatan, Barat, Utara, Timur, Martoba, dan Sitalasari.
Pembagian ini mencerminkan pertumbuhan wilayah sekaligus kompleksitas sosial yang terus berkembang.
“Ketua”: Sapaan yang Menjadi Identitas
Di pasar, di kantor, di warung kopi—sapaan “Ketua” terdengar di mana-mana. Bukan jabatan, bukan pula candaan kosong.
Di Siantar, “Ketua” adalah simbol kedekatan. Sebuah bahasa sosial yang menempatkan semua orang setara, tanpa jarak.
Julukan “Kota Para Ketua” pun melekat, menjadi identitas yang membedakan Siantar dari kota lain di Sumatera Utara.
Kota Multikultural
Siantar tumbuh sebagai kota pertemuan. Batak Toba dan Simalungun memang dominan, namun Jawa, Tionghoa, Minangkabau, India, Aceh, dan etnis lain ikut membentuk wajah kota.
Sensus 2010 mencatat:
-
Kristen: 51,25%
-
Islam: 43,9%
-
Sisanya Buddha, Hindu, dan Konghucu.
Rumah ibadah berdiri berdampingan, mencerminkan harmoni yang telah lama terbangun.
Cap Badak: Dari Pabrik Es ke Ikon Kota
Sejak 1916, minuman legendaris Cap Badak diproduksi oleh PT Pabrik Es Siantar. Diciptakan oleh ahli kimia Swiss Heinrich Surbeck, minuman ini menjadi ikon yang melintasi generasi.
Pada 2000, PDB kota mencapai Rp 1,69 triliun, dengan industri dan perdagangan sebagai tulang punggung ekonomi.
Becak BSA: Warisan Perang yang Menjadi Legenda
Tak ada transportasi yang lebih ikonik selain becak motor BSA. Mesin 500 cc peninggalan Inggris ini disulap warga menjadi becak bermotor.
Suara “nggereng” knalpotnya kini makin jarang terdengar, namun tetap menjadi simbol kota yang tak tergantikan.
Pariwisata: Lebih dari Sekadar Transit
Siantar bukan hanya pintu ke Danau Toba. Kota ini punya daya tarik sendiri:
-
Taman Hewan Pematangsiantar
-
Lapangan Merdeka
-
Vihara Avalokitesvara dengan patung Dewi Guanyin setinggi 22,8 meter
-
Museum Simalungun
-
Siantar Botanic Park & Waterpark
-
Patung Becak Siantar
Kota yang Menjaga Masa Lalu, Menyongsong Masa Depan
Pematangsiantar adalah pertemuan antara sejarah dan modernitas. Di satu sisi, warisan kerajaan dan kolonial masih terasa. Di sisi lain, generasi muda terus mendorong kota ini melangkah maju.
Bagi warganya, Siantar bukan sekadar titik di peta. Ia adalah rumah, ruang perjumpaan, dan saksi perjalanan panjang sebuah kota yang tak pernah benar-benar menjadi “sekadar transit.” (*)
